Seribu Kupu-kupu Ungu part 1

Selena melipat kertas origami berwarna ungu dengan motif bunga-bunga kecil berwarna merah muda. Ia paling tidak suka melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan keterampilan tangan. Ia lebih suka berlarian di luar mengejar kupu-kupu dengan jaring. Namun hari itu ia merelakan waktu bermain di luar-nya dengan membuat prakarya berbahan dasar kertas origami. Ia sudah melihat di me-tube cara membuat kupu-kupu kertas.

“Sudah jadi berapa kupu-kupu, Nak?” tanya ibu.

Selena menoleh ke arah ibunya yang berdiri di samping meja belajar.

“Dua. Dan ini pun tidak kelihatan seperti kupu-kupu,” ujar Selena sambil menarik napas panjang.

“Tidak apa-apa. Semakin sering membuat kamu akan semakin terbiasa dan hasilnya bisa lebih bagus. Memang kamu rencana mau buat berapa kupu-kupu?”

“Seribu…”

Hah?

“Seribu kupu-kupu? Mm…kamu yakin?” tanya ibu yang merasa tidak yakin anaknya sanggup membuat kupu-kupu sebanyak itu.

Selena mengangguk. “Kiara pasti senang tamannya dipenuhi kupu-kupu berwarna ungu. Itu pun kalau….”

Selena tidak melanjutkan perkataannya. Ia menunduk dan tak lama kemudian air matanya meleleh.

“Sudah, jangan menangis. Ibu bantu ya. Mungkin kakakmu dan teman-temannya juga bisa bantu. Bagaimana?”

Mata Selena langsung berbinar. Ia yakin dengan bantuan ibu, kakak dan teman-temannya, seribu kupu-kupu ungu pasti akan selesai tepat pada waktunya.

Maka seharian itu Selena, ibu, kakak dan tiga orang temannya yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah, sibuk melipat dan membentuk kertas origami menjadi kupu-kupu. Pukul delapan malam mereka baru selesai mengerjakan dua ratus buah kupu-kupu. Mereka sudah cukup lelah untuk mengerjakan bahkan sebuah lagi. Ibu menyuruh mereka untuk beristirahat. Ia membuatkan anak-anak makan malam.

Olivia, kakak Selena, menguap lebar. “Bahkan untuk menyuapkan makanan ke mulut saja aku sudah lelah.”

“Semangat, Kak. Kita harus mengerjakannya lagi besok. Kita tidak punya banyak waktu,” kata Selena memberi semangat. Padahal ia pun sudah merasa sangat lelah. Tapi tiap kali ia ingin menyerah, teringat wajah sahabatnya. Dan itu membuat semangatnya muncul kembali.

“Bagaimana kalau besok kita minta teman-teman yang lain untuk membantu?” usul Chloe, teman Olivia.

“Boleh saja, Kak Chloe. Itu lebih bagus lagi. Tapi kita kehabisan kertas origami,” ujar Selena. Ia menoleh ke arah ibu.

“Besok Ibu belikan ya,” kata ibu sambil membereskan piring-piring.

Keesokan hari, tepat pukul sebelas siang, pasukan pembuat kupu-kupu sudah siap untuk berjuang menyelesaikan misi membuat seribu kupu-kupu ungu untuk sahabat Selena, Kiara. Ada sepuluh anak yang akan berjuang hari itu.

Pukul tujuh malam…

Telepon berdering.

“Halo…”

Ibu terdiam. Tidak mampu berkata-kata.

“Ada apa, Bu?” tanya Selena cemas.

“Kondisi Kiara memburuk. Ibu cemas kalian tidak bisa menyelesaikannya…”

 

Kukis…Oh…kukis…

Aku suka makan kukis. Raised up by a mom who loved cooking and baking, I turn out to be a cookie monster – to some extent. Tapi aku yakin gak ada orang yang gak suka kukis ya… Pas kebetulan aja aku itu doyannn banget. Gimme a jar of kastengel atau nastar, I can finish ’em all sendirian loh… Seriously…

Nah…karena aku suka banget kukis dan kalo Natalan atau Imlekan dulu mami suka bikin kukis sendiri, starting 7 years ago waktu she went to be with the Lord, aku bertekad untuk bisa bikin kukis sendiri. Soalnya kalo beli mahal dan gak sesuai dengan yang kumau.

So…berbekal sedikit pengalaman waktu bantuin mami di dapur dulu, aku pun turun ke dapur to bake my first cookies. Waktu itu aku bikin kastengel. Gosh! Gagal. Gak kemakan. Mau dibuang sayang jadi cuma kumasukkan dalam toples dan jadi pajangan sampek akhirnya nyerah dan merelakannya masuk tong sampah. Kenapa gak kemakan? Karena it was too salty… cheesy mending, ini mah salty. Aku gak tau dimana mami nyimpen bundelan resepnya jadi aku hanya browse resep sana-sini aja. Comot resep ini, comot resep yang lain. Gak ada yang salah dengan resepnya… Hanya aja waktu itu aku belum pengalaman jadi gak ngerti komposisi bahan-bahan kue yang bener gimana. (It happened waktu aku pertama kali bikin puding. Gagal dulu di awal tapi sekarang lumayanlah udah bisa improvisasi).

Waktu gagal yang pertama bikin kastengel, aku gak nyerah. Aku bikin lagi. Di hari yang sama. Padahal masih sedih dan gak rela karena harus buang bahan. Tapi ciayoooo… Dan akhirnya, dengan deg2an karena takut gagal lagi, aku bikin adonan baru. And this time it worked! Voila! Gak cuma berhasil tapi rasanya juga endessss banget. Dan noraknya, saking senengnya, aku langsung open PO. Ahahahahah…

Nah…udah dua tahun ini oven-ku gak beroperasi. (Oven-ku oven listrik yang hanya bisa menampung dua tray. Mereknya lupa. Yang mami punya yang gede udah rusak. Kebayang dong ya sekali panggang hanya bisa dua loyang kecil). Natal tahun lalu aku gak sempet bikin kukis jadiii… aku pun membulatkan tekad untuk bikin kue Imlek.

Tradisi kue Imlek di tiap keluarga itu beda-beda. Di keluarga besarku, kalo Imlek itu harus ada beberapa jenis manisan yang ditaruh di dus berbentuk trapesium warna merah, nastar dan kue kacang. Kalo kastengel biasanya muncul pas Natal aja. Di beberapa keluarga, kue semprong itu wajib ada pas Imlekan. Kalo kue besarnya harus ada lapis legit. Ini wajib hukumnya! Tapi gak harus juga sih. Kuinget waktu kecil dulu waktu Imlek-an ke rumah my long-distant grandma, dia bikin bolu lapis daging. Aku masih inget bentuk dan warnanya. Rasanya lupa. Harus ada yang ngasih dulu baru inget. Hihihi…

Selain kue, ang-bao of course lah yaaaaa… wajib ada. Ini yang bikin semangat tiap Imlek.

Olraitt… Imlek tahun ini aku bikin kue kacang. Bahan utama yang kupakai adalah Skippy Chunk 500 gram yang tutupnya biru. Mm…kebayang dong yummy-nya. Biasanya bentuk kue kacang itu bulat gepeng, hati atau bunga. Berhubung males bikin buletan, aku memutuskan cetak adonan aja. Dan berhubung entahlah di mana tuh cetakan bunga, maka aku pake yang hati dan ikan. Pas ada yang ikan. Cocok kan untuk Imlek-an. Ikan itu lambang keberuntungan dan umur panjang.

Waktu lagi sibuk nyetak-nyetak adonan, si anak lanang ngomong gini,” Mi…aku mau nastar.” Gubrakkkk… Aku ngebayangin ribetnya bikin nastar. Emang gak rencana bikin itu. Kupikir kue kacang aja udah cukup. Tapi demi si anak lanang, ya udahlah aku bikin nastar. Berhubung gak bikin selai nanas, si mamih gak habis akal.

“Pake selai nanas botolan will do juga keknya…” Maka jadilah untuk isian nastar-nya aku pakai selai nanas botolan. Not bad-lah…

Maka selama dua hari aku pun bikin kue. Si anak lanang ikut bantuin parut keju yang akan dimasukkan ke dalam adonan nastar. Tapi…si lanang bukannya sibuk parutin keju tapi nyemilin juga. Bahkan nyemilin tepung dan gula halus. Tepok jidat…

To cut the long story short, akhirnya…jadi juga dehhh kuker-ku. Sukses! Here they are: Skippy Cookies and Pineapple Tart Cookies. Wangi dan teksturnya mm… Wanna try?

img_20190116_172627_368

Skippy Cookies

IMG_20190113_121419_679.jpg

Nastar

IMG_20190113_122351_577.jpgIMG_20190113_113338_038.jpg

Happy Chinese New Year for mommies who celebrate it! Hope year of piggie will bring you more prosperity, grant you with good health dan happiness!

Mom’s Corner

IMG_20190112_110223_305.jpg

Hi, mommies! Hanya mau share aja sedikit menu weekend ini yaitu sup daging, sosis dan telur puyuh, tahu bandung goreng dan telur dadar. It’s so simple yet yummy… Mau bahagia? Simply cook for your family! Tidak perlu masak yang ribet yang penting cook from the heart. Masak begini aja si anak lanang bolak-balik nanya kapan makan siang padahal baru jam 11!

Mm…sedikit tips untuk mommies. Saya selalu membuat telur dadar dengan irisan daun bawang, lada dan kecap asin. Condiment yang wajib ada di rumah itu adalah lada dan kecap asin. Saya menghindari pemakaian garam dalam membuat telur dadar dan menggantinya dengan kecap asin. Alasannya simple… karena lebih wangi dan enak. Coba deh! Untuk beberapa masakan juga saya suka menambahkan kecap asin.

Oh ya untuk sosis, saya menggunakan yang jenis bratwurst atau frankfurter. Kalau untuk sosis, biasanya saya menggunakan merek Max yang bisa mommies dapatkan di supermarket seperti Grand Lucky, Lottemart dan Farmer’s Market.

Okay!

Happy weekend happy moms and kiddos!

Mom’s Corner

Resep Sate Goreng

Saya masih ingat dengan salah satu makanan kesukaan yang dibuat oleh mami saya pada akhir pekan. Tidak setiap sabtu atau minggu ia membuatnya tapi ada banyak akhir pekan di masa kecil saya, ia memasaknya. (Sst…mami pintar memasak). Dan saya sangat menyukainya meskipun rasanya sedikit pedas.

“Ini apa namanya, Mi?” tanya saya.

Mami berpikir. Lalu ia menjawab,” Mm…sate goreng.”

Bentuk makanan ini tidak seperti sate karea tidak ada daging yang ditusuk. Memang sih mami memotong daging sapi kecil-kecil seperti bentuk sate. Tapi bumbu yang digunakan bukan bumbu sate.

“Kok namanya sate goreng?” protes saya. Waktu itu umur saya mungkin sekitar delapan atau sembilan tahun.

Mami tidak tahu masakan itu harus dinamakan apa, tapi karena bentuk potongan dagingnya seperti sate dan cara membuatnya dimasak menggunakan minyak dan bumbu serta kecap manis maka ia menyebutnya dengan sate goreng.

Dan mommies, tahukah kalian setiap saya pulang sekolah minggu sekitar pukul dua belas siang, saya selalu menyerbu dapur. Saya berharap mami memasak sate goreng hari itu.

“Yeayyy!!! Sate goreng!”

So…mommies mau tahu cara memasaknya? Mudah kok dan pasti anak-anak suka. Seperti saya dulu.

This recipe is dedicated to mom.

Miss you, Mami…

Bahan:

Daging sapi dipotong kotak/dadu (berat daging disesuaikan dengan kebutuhan)

Haluskan bawang putih, bawang merah dan cabe merah

Gula, garam secukupnya

Air secukupnya

Kecap manis

Cara membuat:

Tumis bumbu sampai harum, masukkan daging, air secukupnya, kecap manis, gula dan garam. Lalu masak hingga matang. Hidangkan.

Selamat mencoba, Mommies!

Happy weekend!

 

 

Kiddopedia…

71307303-cartoon-hotdog-vector-illustration

Sejarah Nama Hot dog

Apakah kalian menyukai hot dog?

Mm…pasti suka.

Tapi, apakah kalian tahu mengapa jenis makanan ini disebut hot dog?

Menurut http://www.hot-dog.org, sosis merupakan salah satu jenis makanan tertua di dunia yang sudah dibuat sejak abad 9 SM. Wah…sudah ribuan tahun ya umurnya.

Tapi sosis yang kita kenal sekarang ini berasal dari sebuah negara di Eropa yang bernama Jerman. Sosis ini disebut Frankfurter. Kalian pernah mendengarnya kan?

Menurut sejarah, sebelum dikenal dengan nama Frankfurter, orang Jerman menyebut sosis jenis ini dengan nama *dachschund atau little dog yang artinya anjing kecil. Meskipun banyak perdebatan tentang asal sebutan Frankfurter, orang percaya bahwa sosis ini dibuat di Coburg, Jerman, oleh seorang tukang daging bernama Johann Georghehner yang kemudian mempromosikan produknya ke Frankfurt.

Nah…itu tadi sejarah sosis yang kita kenal sekarang dan yang terkenal dengan sebutan Frankfurter. Lalu bagaimana sampai roti sosis dipanggil hot dog? Begini ceritanya…

Tahun 1893 merupakan tahun yang penting bagi sejarah hot dog. Menurut ahli sejarah hot dog yang bernama Bruce Kraig, Ph.D., pensiunan profesor dari Roosevelt University, penduduk Chicago zaman itu gemar memakan sosis karena mudah didapat dan harganya terjangkau. Mereka kemudian mengadopsi cara orang Jerman makan sosis. Mereka biasa memakan sosis dachshund dengan roti.

Kebiasaan penduduk Chicago memakan roti sosis ini terus berlanjut sampai pada tahun 1901 tercetuslah nama panggilan untuk makanan ini yaitu hot dog.

Pada saat itu jatuh pada bulan April yang dingin di New York Polo Grounds yang tengah mengadakan pertandingan polo. Banyak penjual makanan di sana. Mereka berteriak menjajakan dagangan mereka yang kebanyakan menjual roti sosis. Mereka berteriak begini,” Mumpung panas! (They’re red hot!) Nikmati sosis dachshund selagi panas! (Red hot!)”

Seorang jurnalis olah raga New York Journal Sports melihat pemandangan ini dan membuat sketsa kartun-nya. Tapi karena ia tidak begitu yakin bagaimana tulisan dachschund yang benar ditulis untuk menerangkan gambar yang dibuatnya, maka akhirnya ia menulisnya dengan ini: hot dog!

Mm…bagaimana? Apakah kalian jadi ingin memakan hot dog sekarang?

*Dachschund adalah sejenis anjing yang berbadan panjang dan berkaki pendek. Bentuk tubuhnya panjang seperti sosis sehingga orang-orang Jerman dulu sempat menyebut sosis dengan sebutan sosis dachschund.

Sumber   : http://www.hot-dog.org

Gambar  : http://www.123rf.com

Cody si Truk Tua

95091187-cartoon-old-truck-full-of-junk

“Ayah, kami punya kejutan untukmu,” kata Marvin, anak tertua.

“Kejutan apa?”

“Lihat saja sendiri. Kejutannya ada di garasi,” kata Jack sambil tersenyum lebar. Ia anak kedua di keluarga Klinhart.

Samantha, anak ketiga, merangkul lengan ayahnya. “Kau pasti menyukainya, Yah.”

“Baiklah aku akan melihat kejutan yang kalian berikan. Kau mau ikut?” Ayah menoleh ke arah istrinya, Betty, yang sedang duduk menyulam.

“Kau saja. Di luar udara cukup dingin.”

“Bu, kuyakin kau juga ingin melihatnya. Mm…sebenarnya ini bisa jadi kejutan untuk kalian berdua meskipun ayah yang berulang tahun. Ayolah, Bu, kita bersama-sama ke garasi. Kuambilkan mantel dan syal untukmu,” kata Joanne, si anak terakhir. Ia berjalan menuju tempat ibunya biasa menggantung mantel dan syal.

Joanne memakaikan ibunya mantel dan melilitkan syal di lehernya. “Kau pun pasti menyukainya, Bu,” bisik Joanne.

Keempat anak bersama ayah dan ibu mereka berjalan beriringan menuju garasi yang berada di belakang rumah, berdampingan dengan kandang besar tempat mereka memelihara ternak.

Marvin membuka garasi berukuran besar itu. Garasi itu bukan hanya tempat untuk menyimpan truk tetapi juga traktor kecil, mesin pemotong rumput, sepeda dan beberapa alat untuk beternak lainnya. Jadi garasi itu berfungsi juga sebagai gudang.

“Tadaaaa…”

Jack membuka penutup yang menutupi kejutan.

“Sebuah truk *Chevy baru untuk ayah dan ibu. Kalian bisa berjalan-jalan dengannya tanpa harus takut mogok di jalan. Kalian masih suka piknik kan?” Samantha bertanya.

Truk baru itu berwarna merah mengilap. Chevy keluaran terbaru. Modelnya keren dan terlihat kokoh. Roda-rodanya besar; pasti sanggup dibawa menjelajah gunung dan jalan berbatu. Tapi…

“Ini terlalu bagus untuk kami. Kami sudah tua. Tidak lagi berpetualang seperti dulu. Pasti truk ini harganya mahal sekali. Pasti kalian menguras seluruh tabungan untuk membelinya,” kata ayah.

“Ayah, jangan pikirkan soal harganya. Kalian pantas mendapatkan truk ini. Kudengar Cody sekarang suka mogok,” kata Jack. Ia menoleh ke arah truk tua yang kini nampak seperti rongsokan. Warnanya sudah memudar dan ada karat di sana-sini. Para pekerja peternakan melaporkan kalau truk yang sudah berumur empat puluh tahun lebih itu sering batuk-batuk dan mogok.

“Truk baru ini sanggup membawa muatan yang lebih banyak ke kota tanpa harus cemas akan merusak badan atau mesinnya,” Marvin menambahkan.

“Tapi kami memiliki banyak kenangan bersama Cody,” ujar ibu pelan.

“Bu,” Joanne merangkul bahu ibunya. “Kalian tidak perlu menjual atau menyingkirkan Cody. Ia masih bisa tetap di sini. Hanya saja sekarang ia tidak perlu lagi mengerjakan tugas yang berat seperti dulu.”

“Jo benar, Bu. Kalian masih tetap dapat menyimpan Cody sampai kapan pun,” kata Samantha.

Ibu berjalan mendekati Cody dan mengelusnya.

“Ayah, kau ingin mencobanya? Kurasa kau harus mencoba mengendarainya. Ini kuncinya.” Marvin menyodorkan kunci ke arah ayahnya. Ayah menerima kunci itu dan berjalan menuju truk baru. Ia menoleh sebentar ke arah Cody seakan berkata,” Maafkan aku, Cody.”

Mesin truk dinyalakan. Suaranya halus. Tidak seperti Cody yang sering batuk ketika dinyalakan lalu mati. Perlu waktu cukup lama untuk membiarkan mesinnya panas dan dapat dipakai berjalan.

Samantha dan Joanne membantu ibu mereka naik ke dalam truk.

“Kalian bersenang-senanglah,” ujar anak-anak sambil melambaikan tangan ketika truk mulai berjalan lambat.

***

“Harusnya petani tua itu menyingkirkan truk bobrok ini,” ujar si truk baru.

“Huss! Kau tidak boleh berkata begitu!” kata Harry si traktor.

“Kenapa? Memang truk itu bobrok. Lihat saja badannya sudah berkarat di sana-sini,” kata truk baru dengan sombong.

“Aku tidak suka mendengarmu berkata begitu tentang Cody. Meskipun tua ia baik dan setia. Tidak seperti kau. Sombong dan kasar,” kata Calvin si mesin pemotong rumput.

“Aku? Sombong? Jelas aku sombong karena aku punya alasan untuk sombong. Aku keren dan kokoh,” kata truk baru itu lagi dengan angkuh.

“Karena kau masih baru. Coba saja lihat beberapa tahun lagi. Kau juga akan sama seperti truk tua lainnya,” kata Shelly si sepeda.

Truk baru itu mendengus. “Lihat saja, sepeda jelek. Aku tetap akan keren dan kokoh meskipun tua nanti. Kau juga seharusnya disingkirkan. Aku heran dengan petani tua itu. Ia suka sekali menyimpan barang rongsokan seperti kalian.”

“Hei, truk sombong! Pak Klinhart tidak akan pernah membuang kami karena…”

“Karena apa?” Truk baru itu memotong kalimat Harry.

Cody batuk-batuk. Dengan suara serak ia berkata,” Sudah, sudah. Kalian tidak perlu bertengkar. Aku memang tua dan seharusnya sudah disingkirkan.”

“Jangan begitu, Cody. Kau memang tua tapi kau berharga. Truk sombong itu tidak boleh berkata kasar kepadamu,” kata Shelly. Ia hampir menangis karena sedih dan kesal.

“Aku tidak apa-apa, Shelly. Sudahlah jangan menangis,” kata Cody.

***

“Hei, ada apa sih? Pagi-pagi sudah ramai dan sibuk,” gerutu truk baru.

Harry mengintip dari pintu garasi yang sedikit terbuka. Ia gemetar ketika melihat ke luar.

“Ada apa, Harry?” tanya Calvin dan Shelly bersamaan.

“Ada ambulans di luar. Siapakah yang sakit?” kata Harry pelan. Ia merasa cemas. Pasti ada yang tidak beres.

Tiba-tiba pintu garasi terbuka. Pak Klinhart bergegas masuk dan berjalan menuju…Cody.

“Cody, kita akan ke rumah sakit. Tolong kau jangan mogok. Aku membutuhkanmu untuk membawaku ke sana,” ujar Pak Klinhart.

Hei…apa-apaan ini! Mengapa petani tua itu tidak mengendaraiku? Truk baru itu menggerutu dalam hati. Ia kesal karena Pak Klinhart kelihatan lebih menyayangi Cody dibanding dirinya padahal ia bobrok dan suka mogok.

Cody berjanji dalam hati untuk tidak mogok hari itu. Ia bertekad membawa Pak Klihart ke rumah sakit. Oh…tapi siapakah yang sakit?

“Ayo, Cody. Kita akan beriringan menuju rumah sakit bersama ambulans. Ya Tuhan, semoga Betty baik-baik saja.” Pak Klinhart menjalankan truk tua itu. Dan berhasil! Cody tidak batuk-batuk lalu mati.

Sepeninggal Cody dan Pak Klinhart, Harry, Shelly dan Calvin sibuk bercerita. Truk sombong yang bahkan belum diberi nama itu mendengarkan.

“Semoga Bu Klinhart baik-baik saja. Kesehatannya memang menurun akhir-akhir ini. Tapi aku tetap berharap ia akan baik-baik saja,” ujar Harry.

“Kau benar, Harry. Aku juga berharap demikian,” kata Calvin.

“Mereka orang baik. Aku sangat menyayangi mereka dan anak-anak. Kalian ingat dulu anak-anak suka menaikimu, Harry? Ingatkah kau waktu Jack mencoba menjalankan mesinmu dan itu membuat Pak Klinhart marah besar? Tapi Jack tidak menangis. Ia malah tertawa-tawa. Umur berapa dia waktu itu?” Shelly mengenang.

“Sepuluh atau sebelas tahun. Aku masih ingat. Kejadian itu seakan baru saja terjadi. Pak Klinhart memperlakukan dan merawat kita dengan baik. Ia selalu mengucapkan selamat pagi dan selamat malam pada kita,” kata Harry.

“Ingatkah kau, Shelly, dulu Samantha dan Joanne suka sekali menaikimu. Dan siapa nama anjing pudel milik mereka itu? Aduh kok aku lupa…” Calvin berusaha mengingat.

“Oscar namanya,” kata Shelly.

“Betul. Oscar. Ah…aku jadi merindukan anjing itu. Ia manis sekali. Kau ingat kan Sam dan Jo suka memasukkan Oscar ke dalam keranjangmu lalu pergi berpiknik ke hutan kecil,” kata Calvin.

“Aku tidak akan pernah melupakannya, Cal. Mereka semua manis. Aku menyayangi keluarga ini. Aku bersyukur menjadi bagian di keluarga Klinhart,” kata Shelly.

Truk sombong berdeham. Ketiganya menoleh sambil menaikkan alis.

“Kenapa kau?” tanya Harry ketus.

“Aku mendengarkan pembicaraan kalian lalu membayangkannya. Betapa nyamannya tinggal di sini karena keluarga ini memperlakukan kalian dengan baik. Kalian beruntung,” kata truk sombong.

“Kau juga beruntung. Kau menjadi bagian keluarga ini. Tapi kami tidak suka padamu. Kau sombong,” kata Shelly.

Truk sombong itu diam beberapa saat.

“Aku minta maaf karena sudah bersikap sombong dan berkata kasar. Seharusnya aku tidak seperti itu. Aku tidak bermaksud jahat kepada kalian. Aku sombong hanya untuk mendapat penghargaan dari kalian,” kata truk sombong itu.

“Mm..kau tidak perlu menjadi sombong hanya untuk mendapat penghargaan. Justru dengan menjadi rendah hati kau akan lebih dihargai. Kau perlu belajar merendahkan hati. Kau harus ingat juga kalau kita semua akan menjadi lemah dan tua. Oleh karena itu kita tidak punya alasan untuk sombong,” kata Harry bijaksana.

Truk sombong itu mengangguk.

“Maafkan aku.”

“Kami memaafkanmu. Kau tidak perlu bersedih lagi. Sekarang yang harus kita lakukan adalah berharap Ibu Klinhart baik-baik saja,” kata Calvin.

“Kau janji ya tidak berkata kasar lagi terhadap Cody. Dia itu truk tua yang manis,” kata Shelly.

Beberapa jam kemudian Pak Klinhart pulang.

“Terima kasih, Cody. Kau tidak mogok hari ini. Aku menyayangimu. Kau berharga bagiku dan Betty. Juga anak-anak. Kau memang lemah dan tua sekarang. Tapi kau dulu juga kokoh dan kuat. Selamat malam, Cody.”

Pak Klinhart berjalan menuju pintu namun kemudian berbalik.

“Hei, aku belum memberimu nama. Kunamai kau Brian. Kau suka itu truk merah besar?”

Pak Klinhart menutup pintu garasi dan pulang ke rumah.

Cody terlihat lelah hari itu tetapi bahagia.

“Aku lelah sekali. Tapi aku senang karena dapat mengantar Pak Klinhart ke rumah sakit dan membawanya pulang. Badanku sakit rasanya dan butuh istirahat…”

“Bagaimana keadaan Bu Klinhart? Cody…Cody… Hei, bangun, Cody!” seru Harry.

Tapi Cody diam saja.

“Cody! Cody! Bangun!” Calvin dan Shelly ikut memanggil.

Tetap tidak ada jawaban. Cody hanya terdiam. Mereka cemas. Apa yang terjadi dengan sahabat mereka?

Harry memanggil lagi tapi masih tidak ada jawaban.

“Aku belum sempat minta maaf padamu, Cody. Bangunlah…” kata Brian si truk baru.

Uhuk…uhuk…uhuk…

“Kalian berisik sekali. Aku sedang tidur,” kata Cody.

“CODY!!!” teriak Harry, Calvin, Shelly dan bahkan Brian serempak. Mereka lega ketika tahu bahwa si truk tua itu hanya tertidur pulas saja.

Cerita oleh     : Echa Tan

Gambar         : http://www.123rf.com

*Chevy adalah sebutan untuk merek mobil atau truk Chevrolet keluaran perusahaan mobil General Motors dari Amerika. Perusahaan ini didirikan pertama kali tahun 1911 di Detroit dan fasilitas pembuatan mobil dan truk yang pertama di Toronto, Kanada.

Home Alone

Related image

“Mana mangkuk sereal-mu, Rudolph?” kata ibu sambil menuangkan sereal dan susu ke dalam mangkuk-mangkuk yang segera saja diserbu oleh para kakak Rudolph. Rudolph menyodorkan mangkuknya. Ibu menuang sereal dari dalam dus dan susu ke dalam mangkuk biru milik Rudolph.

Rudolph buru-buru menarik mangkuk biru ke hadapannya lalu menyendokkan sereal ke dalam mulut sambil berkata dalam hati,” Berisik sekali sih mereka. Dan ya ampun…betapa berantakannya. Lihat saja susu berceceran di meja makan.”

“Bu, aku mau tambah sereal,” ujar Dancer, kakak tertua Rudolph yang bertubuh besar.

“Cukup, Dancer. Lihat badanmu sudah sangat besar,” kata ibu.

“Tapi aku masih lapar,” ujar Dancer dengan tatapan memohon. Ibu membalas tatapannya dengan galak. Itu artinya tidak.

“Sst…Dancer, kau mau sereal-ku?” bisik Rudolph. Dancer menoleh lalu mengangguk.

Rudolph menggeser mangkuknya ke arah kakaknya. Sebentar saja sisa sereal dan susu di dalamnya habis. Dancer mengelus perutnya.

“Harusnya Ibu tahu kalau kita semua masih dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan banyak makan,” kata Dancer. Rudolph tidak berkata apa-apa. Ia meneguk susu dari dalam gelas kecilnya.

“Pantas kau tidak besar-besar, Rud. Lihat saja, gelasmu kecil sekali,” ejek Dancer. Dancer mengambil gelasnya yang lebih besar dan meneguk habis susu di dalamnya.

“Ibu tidak sayang padaku,” gumam Rudolph sedih.

“Sudahlah, Dancer! Kau suka sekali mengejek Rudolph. Jangan dengarkan dia, Rud. Ibu memberimu gelas lebih kecil karena kau memang masih kecil. Perutmu tidak akan bisa menampung susu lebih banyak dibanding kami,” ujar Prancer.

“Sok tahu kamu!” Dancer menjulurkan lidahnya.

Pagi itu keluarga Muffinhouse si hamster sedang sarapan bersama di ruang makan mereka yang mungil. Ruangan itu dijejali sembilan anak ditambah ayah dan ibu. Belum lagi anak-anak suka bertengkar pada saat makan. Dapatkah kalian bayangkan betapa sesak dan ramainya suasana di sana? Anak-anak duduk saling berhimpitan dan tak jarang mereka saling bersenggolan sehingga menumpahkan makanan ke atas meja makan dan lantai. Kalau sudah begitu ibu akan mengomel sambil membersihkan tumpahan susu atau remah-remah makanan yang tercecer.

“Dancer, Prancer, Dasher, Donner, Comet, Cupid, Blitzen, Vixen, Rudolph! Cepat habiskan sarapan kalian! Bis sekolah sebentar lagi datang menjemput kalian!” seru ayah ketika dilihatnya beberapa dari sembilan anak-anaknya masih belum menyelesaikan sarapan. Ia melipat koran dan melepaskan kacamata bacanya.

“Aku sudah selesai…” ujar Rudolph.

“Kau membagi sarapanmu dengan Dancer lagi?” tanya ibu.

“Mm…”

Rudolph selalu berusaha menyelesaikan sarapannya supaya dapat lebih dulu masuk ke dalam bis sekolah sebelum semua saudaranya. Ia tidak ingin berjejalan dengan mereka. Baginya saudara-saudaranya itu menyusahkan dan berisik. Ia membayangkan betapa nyamannya tinggal sendiri. Tanpa saudara. Bahkan tanpa ayah dan ibu.

***

“Dancer…”

“Prancer…”

“Dasher…”

“Donner…”

“Comet…”

“Cupid…”

“Blitzen…”

“Vixen…”

“Ayah…”

“Ibu…”

Sepi. Tidak ada yang menjawab. Rudolph mencari ke setiap ruangan yang ada di dalam rumah namun tidak mendapatkan siapapun di sana. Siapapun… Hanya ada dirinya. Ya…ia benar-benar sendiri.

“Hore!!! Akhirnya aku bisa tinggal sendiri di rumah! Tidak ada yang menggangguku, melarangku main video game, mengurangi jatah makanku dan aku tidak harus tidur berjejalan dengan saudara-saudaraku!” teriak Rudolph kegirangan. Sebagai anak bungsu, ia hampir tidak memiliki ruang yang cukup untuk tidur karena kakak-kakaknya dengan tubuh mereka yang lebih besar memenuhi kamar tidur mereka yang sempit, ia hanya memiliki waktu sedikit saja bermain video game dan tentu saja ia sering mendapatkan jatah makanan dengan jumlah lebih sedikit. Belum lagi ayah dan ibu yang sering melarang anak-anak bermain sampai malam. Tapi dengan tidak adanya mereka di rumah, Rudolph bisa melakukan apapun yang disukainya.

“Tapi…kemana ya mereka pergi,” pikir Rudolph.

“Ah…aku tidak peduli di mana mereka. Yang penting aku bebas!”  Rudolph bersorak. Kemudian ia berjalan menuju dapur dan membuka kulkas.

“Wow!” Rudolph belum pernah mendapati begitu banyak makanan yang dapat dinikmatinya sendiri. Botol-botol susu masih penuh.

Rudolph mengambil gelas besar milik ayahnya dan menuang susu ke dalamnya. Dalam hitungan detik ia meminumnya sampai habis. Kemudian ia mengambil persediaan kue kenari dan makanan lain yang ada di kulkas dan lemari penyimpanan. Belum merasa kenyang, ia memutuskan untuk memesan pizza. Ia berjalan menuju meja telepon, menekan nomor telepon Geronimo Pizza dan memesan seloyang besar salami pizza. Ya…benar-benar seloyang besar untuk dirinya sendiri.

Kira-kira tiga puluh menit kemudian bel rumah berbunyi. Rudolph buru-buru membuka pintu dan mendapati pengantar pizza berdiri di sana dengan membawa sebuah kotak besar di tangan. Mm…aroma pizza itu menyerbu hidung mungil Rudolph; membuat cacing-cacing di perutnya melonjak kegirangan.

“Kau sendiri?” tanya pengantar pizza sambil melongokkan kepalanya sedikit ke dalam rumah. Rudolph mengangguk.

“Di mana ayah, ibu dan kakak-kakakmu?” tanyanya lagi.

“Aku tidak tahu,” jawab Rudolph. Ia memberi sedikit tip, seperti yang biasa ibunya lakukan tiap kali memesan seloyang besar pizza untuk sebelas anggota keluarga, kepada si pengantar pizza.

“Terima kasih.”

Rudolph menutup pintu sebelum pengantar pizza itu sempat berkata,” Hati-hati di rumah sendiri. Sebentar lagi ada badai…”

Pizza itu masih hangat. Potongan salami di dalam pizza lumayan banyak dengan lelehan keju di atasnya. Rudolph mengambil satu potong. Habis dalam sekejap. Potongan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam…ketujuh…

Rudolph sudah tidak sanggup menghabiskan potongan terakhir. Ia menyerah karena merasa kekenyangan setelah makan begitu banyak. Tidak lama kemudian ia mulai mengantuk. Ia menguap lebar dan tak lama kemudian tertidur pulas.

Duaarrr!

Rudolph terbangun dari tidur. Udara terasa dingin. Ia melihat jam dinding. Pukul tujuh malam. Ia melihat sekeliling dan belum mendapati siapapun juga di rumah. Suara petir terdengar sambung-menyambung dengan disertai hujan lebat. Sangat lebat. Belum lagi angin bertiup kencang. Suara daun-daun di pohon yang bergesekan juga terdengar jelas.

Wuss…wuss…wuss…

Suara tiupan angin terdengar. Suasana malam itu terasa menakutkan. Rudolph duduk di pojok tempat tidur. Jantungnya berdebar kencang. Ia teringat cerita-cerita kakak-kakaknya tentang monster yang suka berkeliaran di saat hujan. Tubuhnya gemetar mengingatnya.

“Oh…ya ampun salah satu atap terbawa angin,” ujar Rudolph ketika dirasanya ada tetesan hujan di kepalanya. Ini menambah ketakutannya. Ia membayangkan monster itu mengintip dari lubang yang ada. Ia tidak dapat membayangkan apa jadinya kalau monster itu merayap turun? Hiii…

Hujan terus turun disertai angin kencang selama beberapa saat. Rudolph bertanya-tanya sendiri. Apakah semua atap rumah akan ikut terbawa jika angin terus bertiup kencang? Lalu bagaimana dengan dirinya? Akankah angin membawanya pergi juga? Apakah ia masih dapat bertemu dengan saudara-saudara, ayah dan ibu lagi?

“Kalian di mana? Aku merindukan kalian. Aku ingin kalian pulang…” ujar Rudolph di sela-sela tangisnya. Ia menutup wajahnya dengan bantal.

“Hei! Air matamu membasahi bantalku! Kau kenapa sih, Rudolph?” Vixen menyenggol tubuh adiknya. Ia menggeser tubuhnya menjauh dari Rudolph.

“Hei, anak kecil, bangun! Kau bermimpi dan menangis!” seru Comet.

Rudolph membuka matanya dan mendapati saudara-saudaranya ada di situ menatapnya heran. Mendadak ia merasa sangat menyayangi mereka. Ia memeluk semua saudaranya dengan pelukan hangat.

“Apa-apaan sih!” gerutu Blitzen.

“Aku menyayangi kalian semua!!!” teriak Rudolph gembira.

“Huh! Kau mengganggu tidurku!” dengus Dancer.

“RUDOLPH! TIDUR!” teriak ibu dari kamar sebelah.

“Baik, Bu!!!” jawab Rudolph.

“Sudah, sudah, ayo kembali tidur. Kau mengganggu tidur kami saja. Dasar anak kecil!” gerutu Cupid sambil menarik selimut.

“Ini selimutku.” Donner menarik selimut Cupid.

“Itu selimutmu,” kata Cupid sambil menarik selimutnya kembali dan menunjuk ke arah Prancer. Donner menarik selimut Prancer.

“Hei! Itu punyaku!” Prancer menarik kembali selimutnya.

Rudolph tersenyum geli melihat tingkah saudara-saudaranya. Mereka berisik seperti biasa. Namun kali ini ia tidak merasa terganggu. Ia justru merasa nyaman berada di tengah mereka dibandingkan hidup sendiri. Ia juga merasa aman karena yakin meskipun mereka suka bertengkar, berebut makanan dan selimut, sesungguhnya mereka saling menjaga.

Aku sayang kalian… Benar-benar menyayangi kalian…

Rudolph memeluk Dasher.

“Hei, hei! Kau memelukku!” Dasher melepaskan pelukan adiknya. Namun Rudolph memeluknya semakin kencang…

Cerita oleh   : Echa Tan

Gambar       : http://www.kissclipart.com

 

Penelope, Kue Kismis dan Selai Kacang

Cookie Clip Art - Clipart library

Berry-mead adalah sebuah kota kecil yang terletak di sepanjang aliran sungai Willow yang berdekatan dengan hutan kecil Mapple. Jauh dari pusat kota membuat suasana di Berry-mead tenang dan nyaman. Burung-burung masih terdengar kicaunya tiap pagi dan tukang susu serta tukang roti masih terlihat menggunakan sepeda mereka untuk mengantar pesanan ke rumah-rumah. Kebanyakan dari warga kota adalah petani anggur. Tiap musim panen seluruh penduduk akan turun ke kebun anggur untuk memetik hasilnya. Mereka mengolah anggur menjadi salah satu jenis makanan yang dikenal sampai ke kota-kota tetangga yaitu kue kismis. Mm…kue kismis buatan warga Berry-mead sangat enak. Kue kismis-nya besar-besar dengan banyak potongan kismis di dalamnya.

Adalah keluarga Winechop yang terkenal dapat membuat kue kismis terenak di seluruh Berry-mead. Selama ratusan tahun keluarga ini telah membuat begitu banyak kue kismis untuk kota-kota tetangga. Karena kewalahan menerima pesanan maka nenek buyut dari keluarga ini yang bernama Emma Winechop meminta bantuan dari penduduk Berry-mead untuk membantunya. Berawal dari situlah maka sampai saat cerita ini dibuat dan mungkin untuk selama-lamanya seluruh warga kota menjadi pembuat kue kismis. Mereka tidak hanya membuat tetapi sangat menyukainya. Di setiap rumah paling tidak terdapat satu sampai dua toples kue kismis dan mereka mengadakan perayaan Kue Kismis Tahunan di mana tiap keluarga akan membuat kue kismis, membawanya ke balai kota dan menyantapnya bersama. Menyenangkan bukan?

Tapi benarkah seluruh warga Berry-mead menyukai kue kismis?

“Kulitku terlihat keungu-unguan karena terlalu banyak makan kismis,” keluh Penelope sambil menatap wajahnya di cermin. Gadis kecil itu berumur delapan tahun dengan bintik-bintik di wajahnya, gigi berkawat, berkacamata tebal dan rambut yang dikepang dua. Bintik-bintik itu berwarna coklat muda sebenarnya tapi Penelope yakin warnanya ungu.

Penelope melirik ke arah majalah remaja yang tergeletak di tempat tidur. Diam-diam ia mengambilnya dari rak buku Charlotte, kakak perempuannya yang berumur empat tahun di atasnya. Ia duduk di atas tempat tidur dan membolak-balik halaman majalah. Selama beberapa hari matanya tertuju pada iklan yang ada di dalamnya. Sebuah iklan selai kacang.

“Apa rasanya selai kacang?” pikir Penelope.

“Penny Winechop!!! Di mana majalahku?” teriak Charlotte dari kamarnya. Penelope menutup majalah ketika didengarnya langkah kaki mendekat. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka.

“Mana majalahku?” tanya Charlotte sambil menatap galak ke arah adiknya.

Penelope menyerahkan majalah itu ke kakaknya.

“Lain kali bilang dulu kalau mau meminjam,” kata Charlotte.

“Apakah kau akan meminjamkan kalau aku bilang?” tanya Penelope. Charlotte menatap adiknya dengan kesal.

“Tentu saja tidak, Penny. Kau masih kecil,” kata Charlotte.

“Makanya aku tidak bilang…”

Charlotte menghentakkan kakinya ke lantai. “Awas kalau kau diam-diam mengambilnya dari rak buku-ku lagi. Kuadukan nanti ke ayah.”

Penelope mengangkat bahunya dengan acuh.

Malam itu Penelope tidak bisa tidur. Ia terbayang iklan Nutty Nuts, selai kacang yang membuatnya penasaran. Roti dengan olesan tebal selai dengan butiran kacang pada iklan itu terlihat menggoda. Penelope sangat ingin mencobanya. Seumur hidupnya ia hanya tahu satu jenis selai. Kalian pasti tahu kan apa…

Penelope mengambil celengan kaleng yang bisa dibuka tutupnya yang disimpan di atas lemari pakaian. Ia merogohkan tangan mungilnya ke dalam dan menarik beberapa lembar uang. Tidak banyak namun cukup untuk mengantarnya ke kota sebelah dan mendapatkan apa yang sangat diinginkannya.

Kereta api uap membawa Penelope dari Berry-mead menuju Winterdale. Perjalanan memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Hari itu Sabtu. Biasanya ia menghabiskan waktu di hutan Mapple memetik bunga liar atau menangkap kupu-kupu. Tapi kali itu ia memutuskan untuk berpetualang ke kota tetangga yang selalu bersalju sepanjang tahun. Untunglah ibu tidak curiga ketika Penelope mengenakan syal di leher ketika berpamitan.

“Kota Winterdale bersalju sepanjang tahun tapi tidak ada satu pun dari penduduknya memakan salju. Lalu mengapa kami harus memakan segala sesuatu yang terbuat dari anggur hanya karena banyak anggur di Berry-mead?” pikir Penelope di sepanjang perjalanan.

“Kau sendirian, Dik?” tanya seorang gadis muda berseragam coklat. Penelope mengangguk. Rupanya gadis itu bekerja di kereta api itu sebagai penjual makanan dan minuman.

“Kau mau ini?”

Penelope menatap sebuah bungkusan kecil yang disodorkan gadis muda itu.

“Apa itu?” tanya Penelope curiga.

“Kue kismis dari Berry-mead,” jawab gadis muda itu sambil tersenyum lebar.

Penelope menutup mulutnya. Ia merasa mual mendengar kue kismis disebut.

“Tidak, terima kasih.”

“Aku memberikannya kepadamu. Kau tidak harus membelinya.”

Penelope menggeleng kuat-kuat. Gadis penjual makanan itu pun berlalu.

Stasiun kereta api Winterdale cukup sibuk. Banyak orang berpergian hari itu. Ada yang menenteng koper kulit, tas besar, kantong-kantong kertas, tas punggung atau tidak membawa apapun seperti Penelope. Hanya beberapa lembar uang di kantong dan sebulat tekad untuk membeli Nutty Nuts!

Tapi Penelope tidak tahu di mana ia bisa mendapatkan Nutty Nuts. Ia belum pernah ke Winterdale dan saat itu kebetulan salju turun yang membuatnya kedinginan. Bahkan ia sangat kedinginan. Syal yang membalut lehernya tidak cukup untuk menghangatkannya. Jadi ia hanya berdiri kebingungan di tengah orang yang lalu-lalang.

Tiba-tiba Penelope merasa takut. Ia tidak menyangka kalau ternyata berpergian sendiri tanpa orangtua menakutkan. Ia ingin pulang tapi jadwal kereta ke kotanya belum ada. Ia harus menunggu sampai sore.

“Apa yang harus kulakukan sekarang? Di mana bisa kudapatkan selai kacang itu? Kupikir stasiun Winterdale memiliki toko kecil yang menjual makanan, minuman dan barang-barang lain seperti di Berry-mead. Ternyata tidak,” gumam Penelope dalam hati. Kemudian ia memutuskan untuk mencari jalan keluar. Tanda keluar menuju ke arah atas. Ia mengikutinya. Ada tangga berjalan di sana. Ia menaikinya sampai ke atas.

Suasana di lantai atas ternyata berbeda. Di sana ada beberapa kios makanan dan minuman. Bahkan ada beberapa mesin penjual minuman dingin. Tapi tidak nampak satu pun ada yang menjual selai kacang yang diinginkannya. Penelope pikir ia bisa dengan mudah menemukannya. Ternyata tidak. Namun ia tidak mau menyerah.

“Keluarga Winechop pantang menyerah. Aku harus bisa mendapatkan selai kacang itu.” Begitu tekad Penelope.

Penelope mengikuti lagi petunjuk keluar. Kali ini panah mengarah ke bawah. Ia menaiki tangga berjalan ke bawah. Di sana suasana lebih ramai lagi. Banyak orang menunggu sampai salju mereda. Penelope mendekapkan tangannya ke dada karena udara yang berhembus begitu dingin.

“Nak, apakah kau sendirian?”

Penelope menoleh. Seorang wanita berwajah ramah menyapanya. Ia teringat nasihat orangtuanya untuk tidak berbicara dengan orang tidak dikenal.

“Kau kedinginan. Kulitmu jadi terlihat keungu-unguan,” ujar wanita itu.

“Kulitku memang keungu-unguan bukan karena kedinginan. Ini karena aku terlalu banyak makan kismis,” kata Penelope pelan.

Wanita itu menatap gadis kecil di hadapannya.

“Mm…kau dari…Berry-mead?” tanya wanita itu. Penelope mengangguk. Mata wanita itu berbinar.

“Aku suka kue kismis buatan Berry-mead. Suka sekali. Kau beruntung bisa tinggal di sana dan menikmati kue kismis tiap hari,” ujar wanita itu.

“Aku sudah muak dengan kue kismis. Aku sudah memakan ribuan kue kismis sejak kecil,” kata Penelope.

“Benarkah kau sudah muak dengan kue kismis?”

“Benar. Aku sudah memakannya sejak masih bayi mungkin.” Wanita itu tertawa.

“Kau tahu, Nak,” bisik wanita itu. Entah berapa umurnya. Mungkin seumur dengan ibunya di rumah.

Penelope mendekatkan diri ke arah wanita itu supaya bisa mendengarnya berbicara.

“Aku sudah muak dengan ini…” Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong kertas yang didekapnya.

“Nutty Nuts!” seru Penelope.

“Kau kelihatan gembira sekali melihatnya,” kata wanita itu bingung.

“Aku belum pernah makan selai kacang. Aku sangat ingin mencobanya. Seperti apakah rasanya, Bu?” tanya Penelope pada wanita itu.

“Bawalah ini pulang. Aku punya banyak di rumah. Aku bekerja di perusahaan yang memproduksi Nutty Nuts. Setiap bulan kami mendapat jatah dua toples selai kacang. Dan kau tahu, aku sudah tidak ingin memakan selai kacang lagi seumur hidupku.”

Penelope menerima toples gemuk berisi selai kacang yang diinginkannya. Ia mengucapkan terima kasih kepada wanita itu.

“Hei Nak, namaku Olivia. Olivia Peabutter. Dan kau?”

“Aku Penelope Winechop.”

“Kau…kau…berasal dari keluarga Winechop yang terkenal itu… Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Dan kau tahu, Nak? Aku berasal dari keluarga Peabutter pemilik Nutty Nuts. Aku bekerja di sana sekarang. Tidak ada pilihan. Andai kita bisa bertukar tempat…”

Penelope tersenyum. Ia memang sangat ingin mencoba selai kacang tapi…bertukar tempat dengan wanita itu? Mm…nanti dulu. Ia tidak ingin menukar keluarganya dengan apapun juga yang ada di dunia ini. Ia tahu bahwa hampir setiap hari bertengkar dengan Charlotte, tapi ia menyayanginya. Begitu pula sebaliknya. Meskipun Penelope suka membuat kesal Charlotte, ia sangat menyayanginya. Seperti saat ini…jauh di Berry-mead.

“Bu…aku tidak dapat menemukan Penny di mana pun! Tidak juga di hutan Mapple…”

Mendadak Penelope tidak lagi menginginkan selai kacang. Ia hanya ingin pulang ke rumah dan merindukan kue kismis.

“Ini, Bu. Aku sudah tidak menginginkan selai kacang lagi. Aku hanya ingin pulang. Aku mau beli tiket kereta ke Berry-mead sebelum kehabisan. Selamat tinggal!” Penelope menyerahkan toples kepada wanita itu, melambaikan tangannya dan dengan berlari kecil ia bergegas menuju tempat penjualan tiket.

Pulang ke Berry-mead…

Gambar: http://www.clipart-library.com

 

 

 

 

 

 

 

Kiddopedia…

35854805-sunny-side-up-egg-vector-illustration

Mengapa telur ceplok disebut telur mata sapi

Kalian pasti tahu kan masakan olahan telur yang bernama telur ceplok? Pasti kalian juga suka memakannya deh. Nah, telur ceplok ini punya sebutan lain yaitu telur mata sapi. Mm…kok bisa ya disebut seperti itu? Apakah telur ceplok bentuknya seperti mata sapi? Kalian mau tahu tidak kenapa bisa disebut telur mata sapi?

Sebutan telur mata sapi itu awalnya berasal dari bahasa Prancis untuk telur ceplok. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi bull’s eye. Nah bull’s eye ini kalau diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia menjadi mata sapi. Makanya kemudian telur ceplok disebut juga telur mata sapi.

Tapi kenapa disebut bull’s eye? Karena bulatan kuning di tengah itu seperti lingkaran dalam permainan dart yang oleh orang-orang bule disebut bull’s eye. Begitulah sejarah mengapa telur ceplok disebut juga telur mata sapi.

Apakah kalian mau tahu juga selain disebut bull’s eye, disebut apa lagi ya oleh orang-orang di negara lain? Umumnya telur ceplok disebut sunny-side-up karena bulatan kuningnya terang seperti matahari. Di Amerika, tepatnya di Penssylvania, telur ceplok disebut dip egg atau dippy egg yang artinya telur celup. Masih di Amerika tapi di negara bagian lain yaitu Maryland, telur ceplok disebut juga treasure egg yang artinya telur yang menyimpan harta karun. Itu karena bulatan kuning di tengahnya seperti emas.

Nah…apakah kalian tahu sebutan lain untuk telur ceplok dari negara-negara lain? Kalau tahu, kalian bisa bagikan di sini juga ya…

Nantikan kiddopedia selanjutnya…

Sumber: bobo grid

Gambar: 123rf.com

 

Ketika Musim Panen Tiba…

South Sound Arts etc. - Alec Clayton: January 2014

Zest, Emily, Ava dan Summer adalah empat beruang madu yang bersahabat. Mereka tinggal di hutan Applecider bersama keluarga mereka. Pada musim panas mereka pergi ke sekolah dan bermain di sungai berlomba mengumpulkan batu kerikil terbanyak dan berenang.

Mereka berempat memiliki sifat berbeda. Zest periang dan bersemangat. Ia suka berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Selalu saja ada ide baru yang muncul dari otaknya; membuat sahabat-sahabatnya keheranan.

“Dari mana kau dapat ide-ide itu, Zest?” tanya Ava pada suatu siang sehabis pulang sekolah. Mereka berempat sedang tidur-tiduran di hamparan rumput hijau di tepi sungai.

“Aku suka baca buku. Aku mendapatkan pengetahuan dan ide dari situ,” kata Zest bangga.

“Kalau aku, daripada membaca lebih baik makan,” kata Ava. Ketiga sahabatnya menoleh ke arah perut buncit-nya.

“Kau ini beruang madu betina, Ava. Kau tidak malu punya perut buncit?” goda Zest.

Ava menggeleng. “Aku kan masih kecil. Kata ibuku, aku masih dalam masa pertumbuhan. Jadi boleh makan sebanyak yang kumau.”

“Tapiseharusnyakautidakmakanasebanyakituavakarenatidakbaikuntukususmu,” ujar Emily.

“Bisakah kau berbicara lebih lambat, Em?” tanya Zest, Ava  dan Summer serempak. Emily memutar bola matanya. Hanya dia yang bisa melakukannya.

“Baiklah. Ku…….bi……lang……ta…..di…….”

“Sudah cukup, cukup, Emily. Baru sampai malam nanti kau selesai bicara,” kata Summer sambil menepuk dahinya.

Emily tersenyum lebar. “Baiklahkalaubegitu.”

Summer, sesuai namanya, sangat menyukai musim panas. Ia suka berjemur dan berenang. Seperti saat itu, sejak tadi ia sudah ingin menceburkan diri ke sungai yang jernih.

“Sebentar lagi musim memanen apel tiba. Kita harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya apel untuk persediaan selama musim dingin,” kata Zest sambil mengulum bunga rumput di mulutnya.

“BenarsekaliZesttahunlaluakumengumpulkanbanyaksekaliibukumembuatberbotolbotolselaiapeldanjusapel,” kata Emily cepat. Ketiga sahabatnya mengaduh karena tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya. Dan tidak ada satu pun dari mereka memintanya untuk mengulang. Namun untunglah Summer bisa menangkapnya sedikit-sedikit.

“Kau mengumpulkan banyak apel tahun lalu? Ya, aku ingat. Ibumu membuat banyak selai dan jus apel kan?” kata Summer. Emily tersenyum lebar. Ia sangat menyukai Summer karena hanya dia yang dapat mengerti ucapannya. Dan dengan baik hati Summer mengulangnya untuk teman-teman yang lain.

“Hei, sudah sore. Kita harus pulang. Aku harus mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu Wiseburger memberiku banyak tugas,” keluh Zest. Ia bangkit berdiri.

“Tapi…tapi…kita belum berenang…” kata Summer kecewa.

“Nanti saja, Summer. Kita masih punya banyak waktu sebelum musim dingin kan,” ujar Ava. Ia sudah ingin cepat pulang karena perutnya lapar.

Keempat beruang madu itu pun berjalan pulang. Mereka berjanji akan bertemu kembali keesokan harinya.

***

Musim memanen buah apel yang jatuh pada bulan Mei tiba. Para binatang pergi ke hutan Applecider untuk mengumpulkan apel sebanyak-banyaknya. Mereka akan berlomba bangun tidur sepagi mungkin dan pergi ke hutan supaya dapat mengumpulkan apel terbaik.

Zest tiba lebih dulu di hutan sebelum ketiga sahabatnya. Ia membawa keranjang besar. Ia berharap dapat membawa pulang apel terbaik. Kebetulan pada musim memanen tahun itu neneknya berkunjung ke rumah sehingga dapat membuatkan selai dan jus apel terenak di seluruh Applecider.

Setelah Zest, menyusul Emily dengan kereta dorongnya. Seperti yang lainnya, ia ingin mengumpulkan apel terbaik. Jadi tanpa membuang waktu, ia memetik apel secepat ia berbicara.

Summer terlihat kemudian dengan dua keranjang besar di tangannya. Tapi satu keranjang besar di tangan kirinya tidak kosong. Apakah kalian tahu isinya?

Benar…isinya perlengkapan berenang. Summer ingin cepat-cepat mengumpulkan apel lalu setelahnya ia akan berenang. Ia tidak peduli kalau teman-temannya tidak ingin ikut. Ia akan berenang sendiri.

Ava datang paling terakhir. Ia berjalan lambat karena kekenyangan. Ia baru saja menghabiskan tiga potong kue dadar dengan sirup madu di atasnya, dua helai roti gandum, empat keping biskuit coklat dan segelas besar susu. Ia membawa keranjang rotan tua yang ditemukannya di gudang. Ia lupa di mana menyimpan keranjang baru yang diberikan teman-temannya sebagai hadiah ulang tahun.

“Keranjang tua itu tidak cukup kuat untuk menampung apel, Ava. Kenapa tidak kau bawa keranjang baru hadiah dari kami?” tanya Zest. Ia sudah memenuhi setengah keranjang dengan apel yang besar-besar.

“Aku lupa di mana menyimpannya. Tahun depan aku akan menggunakannya,” jawab Ava. Ia menguap beberapa kali.

“Mengapa harus memanen sepagi ini sih?” Ava menggeliat.

“Cepat, Ava. Kau akan kehabisan apel nanti,” ujar Zest. Kelompok sigung sudah mengumpulkan beberapa keranjang besar apel. Mereka terlihat begitu gesit karena tubuh mereka tidak sebesar beruang madu.

Ava memetik apel dengan malas. Ia berpikir untuk apa repot-repot memanen apel sementara di rumah masih ada persediaan makanan. Ia lupa bahwa sebentar lagi musim dingin tiba dan tidak ada seekor hewan pun yang bisa keluar rumah untuk mendapatkan makanan.

Emily sudah hampir memenuhi kereta dorongnya dengan timbunan apel. Ia membayangkan aroma selai apel yang dimasak di dapur. Mm…bercampur dengan kayu manis dan gula, selai apel memang selalu terasa lezat.

“Emily, kau sudah mengumpulkan banyak,” kata Pippo si kelinci. Keranjang kecilnya hanya berisi beberapa butir apel.

“Mengapakaumengumpulkansedikitsekali?”

“Apa?”

“Kubilangtadimengapakaumengumpulkansedikitsekali,” ulang Emily.

Pippo tidak mengerti. Dengan putus asa dan tertatih karena kakinya baru saja terkilir, ia pergi meninggalkan Emily.

“Tunggudulu! Tung……gu…..”

“Sudah, sudah, Em. Aku mengerti,” kata Pippo.

“Ini…” Emily mengambil tiga butir apel yang besar-besar dan meletakkannya ke dalam keranjang Pippo. Kelinci itu menatapnya dengan terharu. Ia baru saja terkilir sehari sebelumnya yang membuatnya sulit untuk mengumpulkan apel tahun itu. Tapi Emily berbaik hati membagi miliknya dengan Pippo.

“Terima kasih, Emily. Kau baik sekali,” kata Pippo. Emily mengangguk.

Hari sudah menjelang sore. Satu per satu binatang pulang ke kandang. Keempat sahabat bertemu dalam perjalanan pulang dengan hasil panen masing-masing.

Tahukah kalian siapa yang mengumpulkan paling banyak?

Zest, Emily, Ava ataukah Summer?

Dengan susah payah Zest menjinjing keranjangnya yang dipenuhi apel. Berkali-kali ia harus memungut apel-apel yang jatuh karena tidak tertampung di dalam keranjang.

Ava berjalan begitu lambat padahal keranjang tua-nya hanya berisi tiga sampai empat butir apel saja.

“Kau hanya mengumpulkan sebanyak itu, Ava?” tanya Summer.

“Sebagian besar masuk ke dalam perutku. Ini yang membuatku berjalan lambat. Aku kekenyangan,” kata Ava sambil memegangi perutnya. Summer geleng-geleng kepala.

Bagaimana dengan Summer sendiri?

Summer mengisi setengah dari keranjangnya dengan apel yang tidak terlalu besar. Ia tidak berusaha mencari apel yang besar-besar dan merah. Pikirannya hanya satu: berenang. Ia tidak ingin matahari cepat terbenam sementara itu ia belum berendam di sungai.

Emily mendorong keretanya yang setengah kosong. Mm…padahal tadi keretanya penuh dengan apel. Tapi ia membaginya dengan Pippo, Nenek Elsie si tupai yang sudah tidak sanggup lagi untuk mengumpulkan apel, Sam yang terbaring sakit di rumah pohonnya dan menyumbangkan sebagian besar apel yang dipetiknya untuk keluarga Otter yang tahun itu tidak bisa ikut memanen apel karena harus memperbaiki liang mereka yang rusak. Emily hanya menyisakan beberapa untuk dibawa pulang. Ia berharap itu cukup untuk persediaan musim dingin.

Dari keempat beruang madu, Zest mengumpulkan paling banyak apel yang bisa dijadikan selai dan jus. Namun sayang di rumahnya tidak memiliki cukup botol dan toples sebagai wadah. Jadi terpaksa sisa apel yang ada disimpan sampai akhirnya busuk.

“Kita hanya punya setengah botol madu, Bu?” tanya Ava sedih.

“Kau menghabiskan yang setengahnya sendiri. Kita juga hampir kehabisan tepung, telur dan apel-apel yang kau kumpulkan hanya bisa kujadikan seloyang kecil pai. Karena tidak banyak yang kita miliki, terpaksa kau harus mengurangi jumlah makanan yang masuk ke dalam perutmu selama musim dingin,” kata ibu. Ava terduduk lemas di kursi makan.

Di rumah Emily…

“Em, Pippo baru saja mengantarkan beberapa loyang kue wortel dengan potongan kacang walnut di atasnya yang masih hangat. Lumayan untuk persediaan selama musim dingin. Oh ya, Nenek Elsie membuatkan setoples kue kenari untuk kita dan keluarga Otter mengirimkan beberapa potong ikan. Dan…Ibu membuat tiga loyang pai dari apel yang kau kumpulkan. Padahal tidak banyak yang kau bawa pulang. Tapi anehnya apel-apel itu cukup untuk diolah menjadi pai. Kau tahu tidak, Em, kita mendapat kiriman beberapa botol selai dan jus yang diletakkan di depan pintu rumah. Ibu tidak tahu siapa yang mengirimnya. Kita punya lebih dari cukup persediaan.”

“Apel-apel yang kau bawa pulang kecil-kecil dan beberapa di antaranya busuk. Ibu hanya bisa membuat satu botol kecil selai apel,” kata ibu Summer sambil membuka lemari penyimpan makanan. Tidak banyak yang tersisa tapi masih cukup untuk persediaan musim dingin. Hanya saja mereka harus sangat berhemat.

Summer menggaruk kepalanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengumpulkan banyak apel tahun depan. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya ia tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak berendam di sungai dan membawa hanya sedikit apel.

Moral of the story:

Dalam mengerjakan sesuatu kita harus fokus sehingga dapat menghasilkan yang terbaik seperti Zest tapi kita harus cukup murah hati juga berbagi seperti Emily. Waktu kita berbagi dengan orang lain, kita tidak akan kekurangan karena akan ada yang menambahkan ke dalam “keranjang” atau “kereta dorong” kita yang kosong sehingga bisa penuh kembali.

Design a site like this with WordPress.com
Get started