
“Ayah, kami punya kejutan untukmu,” kata Marvin, anak tertua.
“Kejutan apa?”
“Lihat saja sendiri. Kejutannya ada di garasi,” kata Jack sambil tersenyum lebar. Ia anak kedua di keluarga Klinhart.
Samantha, anak ketiga, merangkul lengan ayahnya. “Kau pasti menyukainya, Yah.”
“Baiklah aku akan melihat kejutan yang kalian berikan. Kau mau ikut?” Ayah menoleh ke arah istrinya, Betty, yang sedang duduk menyulam.
“Kau saja. Di luar udara cukup dingin.”
“Bu, kuyakin kau juga ingin melihatnya. Mm…sebenarnya ini bisa jadi kejutan untuk kalian berdua meskipun ayah yang berulang tahun. Ayolah, Bu, kita bersama-sama ke garasi. Kuambilkan mantel dan syal untukmu,” kata Joanne, si anak terakhir. Ia berjalan menuju tempat ibunya biasa menggantung mantel dan syal.
Joanne memakaikan ibunya mantel dan melilitkan syal di lehernya. “Kau pun pasti menyukainya, Bu,” bisik Joanne.
Keempat anak bersama ayah dan ibu mereka berjalan beriringan menuju garasi yang berada di belakang rumah, berdampingan dengan kandang besar tempat mereka memelihara ternak.
Marvin membuka garasi berukuran besar itu. Garasi itu bukan hanya tempat untuk menyimpan truk tetapi juga traktor kecil, mesin pemotong rumput, sepeda dan beberapa alat untuk beternak lainnya. Jadi garasi itu berfungsi juga sebagai gudang.
“Tadaaaa…”
Jack membuka penutup yang menutupi kejutan.
“Sebuah truk *Chevy baru untuk ayah dan ibu. Kalian bisa berjalan-jalan dengannya tanpa harus takut mogok di jalan. Kalian masih suka piknik kan?” Samantha bertanya.
Truk baru itu berwarna merah mengilap. Chevy keluaran terbaru. Modelnya keren dan terlihat kokoh. Roda-rodanya besar; pasti sanggup dibawa menjelajah gunung dan jalan berbatu. Tapi…
“Ini terlalu bagus untuk kami. Kami sudah tua. Tidak lagi berpetualang seperti dulu. Pasti truk ini harganya mahal sekali. Pasti kalian menguras seluruh tabungan untuk membelinya,” kata ayah.
“Ayah, jangan pikirkan soal harganya. Kalian pantas mendapatkan truk ini. Kudengar Cody sekarang suka mogok,” kata Jack. Ia menoleh ke arah truk tua yang kini nampak seperti rongsokan. Warnanya sudah memudar dan ada karat di sana-sini. Para pekerja peternakan melaporkan kalau truk yang sudah berumur empat puluh tahun lebih itu sering batuk-batuk dan mogok.
“Truk baru ini sanggup membawa muatan yang lebih banyak ke kota tanpa harus cemas akan merusak badan atau mesinnya,” Marvin menambahkan.
“Tapi kami memiliki banyak kenangan bersama Cody,” ujar ibu pelan.
“Bu,” Joanne merangkul bahu ibunya. “Kalian tidak perlu menjual atau menyingkirkan Cody. Ia masih bisa tetap di sini. Hanya saja sekarang ia tidak perlu lagi mengerjakan tugas yang berat seperti dulu.”
“Jo benar, Bu. Kalian masih tetap dapat menyimpan Cody sampai kapan pun,” kata Samantha.
Ibu berjalan mendekati Cody dan mengelusnya.
“Ayah, kau ingin mencobanya? Kurasa kau harus mencoba mengendarainya. Ini kuncinya.” Marvin menyodorkan kunci ke arah ayahnya. Ayah menerima kunci itu dan berjalan menuju truk baru. Ia menoleh sebentar ke arah Cody seakan berkata,” Maafkan aku, Cody.”
Mesin truk dinyalakan. Suaranya halus. Tidak seperti Cody yang sering batuk ketika dinyalakan lalu mati. Perlu waktu cukup lama untuk membiarkan mesinnya panas dan dapat dipakai berjalan.
Samantha dan Joanne membantu ibu mereka naik ke dalam truk.
“Kalian bersenang-senanglah,” ujar anak-anak sambil melambaikan tangan ketika truk mulai berjalan lambat.
***
“Harusnya petani tua itu menyingkirkan truk bobrok ini,” ujar si truk baru.
“Huss! Kau tidak boleh berkata begitu!” kata Harry si traktor.
“Kenapa? Memang truk itu bobrok. Lihat saja badannya sudah berkarat di sana-sini,” kata truk baru dengan sombong.
“Aku tidak suka mendengarmu berkata begitu tentang Cody. Meskipun tua ia baik dan setia. Tidak seperti kau. Sombong dan kasar,” kata Calvin si mesin pemotong rumput.
“Aku? Sombong? Jelas aku sombong karena aku punya alasan untuk sombong. Aku keren dan kokoh,” kata truk baru itu lagi dengan angkuh.
“Karena kau masih baru. Coba saja lihat beberapa tahun lagi. Kau juga akan sama seperti truk tua lainnya,” kata Shelly si sepeda.
Truk baru itu mendengus. “Lihat saja, sepeda jelek. Aku tetap akan keren dan kokoh meskipun tua nanti. Kau juga seharusnya disingkirkan. Aku heran dengan petani tua itu. Ia suka sekali menyimpan barang rongsokan seperti kalian.”
“Hei, truk sombong! Pak Klinhart tidak akan pernah membuang kami karena…”
“Karena apa?” Truk baru itu memotong kalimat Harry.
Cody batuk-batuk. Dengan suara serak ia berkata,” Sudah, sudah. Kalian tidak perlu bertengkar. Aku memang tua dan seharusnya sudah disingkirkan.”
“Jangan begitu, Cody. Kau memang tua tapi kau berharga. Truk sombong itu tidak boleh berkata kasar kepadamu,” kata Shelly. Ia hampir menangis karena sedih dan kesal.
“Aku tidak apa-apa, Shelly. Sudahlah jangan menangis,” kata Cody.
***
“Hei, ada apa sih? Pagi-pagi sudah ramai dan sibuk,” gerutu truk baru.
Harry mengintip dari pintu garasi yang sedikit terbuka. Ia gemetar ketika melihat ke luar.
“Ada apa, Harry?” tanya Calvin dan Shelly bersamaan.
“Ada ambulans di luar. Siapakah yang sakit?” kata Harry pelan. Ia merasa cemas. Pasti ada yang tidak beres.
Tiba-tiba pintu garasi terbuka. Pak Klinhart bergegas masuk dan berjalan menuju…Cody.
“Cody, kita akan ke rumah sakit. Tolong kau jangan mogok. Aku membutuhkanmu untuk membawaku ke sana,” ujar Pak Klinhart.
Hei…apa-apaan ini! Mengapa petani tua itu tidak mengendaraiku? Truk baru itu menggerutu dalam hati. Ia kesal karena Pak Klinhart kelihatan lebih menyayangi Cody dibanding dirinya padahal ia bobrok dan suka mogok.
Cody berjanji dalam hati untuk tidak mogok hari itu. Ia bertekad membawa Pak Klihart ke rumah sakit. Oh…tapi siapakah yang sakit?
“Ayo, Cody. Kita akan beriringan menuju rumah sakit bersama ambulans. Ya Tuhan, semoga Betty baik-baik saja.” Pak Klinhart menjalankan truk tua itu. Dan berhasil! Cody tidak batuk-batuk lalu mati.
Sepeninggal Cody dan Pak Klinhart, Harry, Shelly dan Calvin sibuk bercerita. Truk sombong yang bahkan belum diberi nama itu mendengarkan.
“Semoga Bu Klinhart baik-baik saja. Kesehatannya memang menurun akhir-akhir ini. Tapi aku tetap berharap ia akan baik-baik saja,” ujar Harry.
“Kau benar, Harry. Aku juga berharap demikian,” kata Calvin.
“Mereka orang baik. Aku sangat menyayangi mereka dan anak-anak. Kalian ingat dulu anak-anak suka menaikimu, Harry? Ingatkah kau waktu Jack mencoba menjalankan mesinmu dan itu membuat Pak Klinhart marah besar? Tapi Jack tidak menangis. Ia malah tertawa-tawa. Umur berapa dia waktu itu?” Shelly mengenang.
“Sepuluh atau sebelas tahun. Aku masih ingat. Kejadian itu seakan baru saja terjadi. Pak Klinhart memperlakukan dan merawat kita dengan baik. Ia selalu mengucapkan selamat pagi dan selamat malam pada kita,” kata Harry.
“Ingatkah kau, Shelly, dulu Samantha dan Joanne suka sekali menaikimu. Dan siapa nama anjing pudel milik mereka itu? Aduh kok aku lupa…” Calvin berusaha mengingat.
“Oscar namanya,” kata Shelly.
“Betul. Oscar. Ah…aku jadi merindukan anjing itu. Ia manis sekali. Kau ingat kan Sam dan Jo suka memasukkan Oscar ke dalam keranjangmu lalu pergi berpiknik ke hutan kecil,” kata Calvin.
“Aku tidak akan pernah melupakannya, Cal. Mereka semua manis. Aku menyayangi keluarga ini. Aku bersyukur menjadi bagian di keluarga Klinhart,” kata Shelly.
Truk sombong berdeham. Ketiganya menoleh sambil menaikkan alis.
“Kenapa kau?” tanya Harry ketus.
“Aku mendengarkan pembicaraan kalian lalu membayangkannya. Betapa nyamannya tinggal di sini karena keluarga ini memperlakukan kalian dengan baik. Kalian beruntung,” kata truk sombong.
“Kau juga beruntung. Kau menjadi bagian keluarga ini. Tapi kami tidak suka padamu. Kau sombong,” kata Shelly.
Truk sombong itu diam beberapa saat.
“Aku minta maaf karena sudah bersikap sombong dan berkata kasar. Seharusnya aku tidak seperti itu. Aku tidak bermaksud jahat kepada kalian. Aku sombong hanya untuk mendapat penghargaan dari kalian,” kata truk sombong itu.
“Mm..kau tidak perlu menjadi sombong hanya untuk mendapat penghargaan. Justru dengan menjadi rendah hati kau akan lebih dihargai. Kau perlu belajar merendahkan hati. Kau harus ingat juga kalau kita semua akan menjadi lemah dan tua. Oleh karena itu kita tidak punya alasan untuk sombong,” kata Harry bijaksana.
Truk sombong itu mengangguk.
“Maafkan aku.”
“Kami memaafkanmu. Kau tidak perlu bersedih lagi. Sekarang yang harus kita lakukan adalah berharap Ibu Klinhart baik-baik saja,” kata Calvin.
“Kau janji ya tidak berkata kasar lagi terhadap Cody. Dia itu truk tua yang manis,” kata Shelly.
Beberapa jam kemudian Pak Klinhart pulang.
“Terima kasih, Cody. Kau tidak mogok hari ini. Aku menyayangimu. Kau berharga bagiku dan Betty. Juga anak-anak. Kau memang lemah dan tua sekarang. Tapi kau dulu juga kokoh dan kuat. Selamat malam, Cody.”
Pak Klinhart berjalan menuju pintu namun kemudian berbalik.
“Hei, aku belum memberimu nama. Kunamai kau Brian. Kau suka itu truk merah besar?”
Pak Klinhart menutup pintu garasi dan pulang ke rumah.
Cody terlihat lelah hari itu tetapi bahagia.
“Aku lelah sekali. Tapi aku senang karena dapat mengantar Pak Klinhart ke rumah sakit dan membawanya pulang. Badanku sakit rasanya dan butuh istirahat…”
“Bagaimana keadaan Bu Klinhart? Cody…Cody… Hei, bangun, Cody!” seru Harry.
Tapi Cody diam saja.
“Cody! Cody! Bangun!” Calvin dan Shelly ikut memanggil.
Tetap tidak ada jawaban. Cody hanya terdiam. Mereka cemas. Apa yang terjadi dengan sahabat mereka?
Harry memanggil lagi tapi masih tidak ada jawaban.
“Aku belum sempat minta maaf padamu, Cody. Bangunlah…” kata Brian si truk baru.
Uhuk…uhuk…uhuk…
“Kalian berisik sekali. Aku sedang tidur,” kata Cody.
“CODY!!!” teriak Harry, Calvin, Shelly dan bahkan Brian serempak. Mereka lega ketika tahu bahwa si truk tua itu hanya tertidur pulas saja.
Cerita oleh : Echa Tan
Gambar : http://www.123rf.com
*Chevy adalah sebutan untuk merek mobil atau truk Chevrolet keluaran perusahaan mobil General Motors dari Amerika. Perusahaan ini didirikan pertama kali tahun 1911 di Detroit dan fasilitas pembuatan mobil dan truk yang pertama di Toronto, Kanada.