Home Alone

Related image

“Mana mangkuk sereal-mu, Rudolph?” kata ibu sambil menuangkan sereal dan susu ke dalam mangkuk-mangkuk yang segera saja diserbu oleh para kakak Rudolph. Rudolph menyodorkan mangkuknya. Ibu menuang sereal dari dalam dus dan susu ke dalam mangkuk biru milik Rudolph.

Rudolph buru-buru menarik mangkuk biru ke hadapannya lalu menyendokkan sereal ke dalam mulut sambil berkata dalam hati,” Berisik sekali sih mereka. Dan ya ampun…betapa berantakannya. Lihat saja susu berceceran di meja makan.”

“Bu, aku mau tambah sereal,” ujar Dancer, kakak tertua Rudolph yang bertubuh besar.

“Cukup, Dancer. Lihat badanmu sudah sangat besar,” kata ibu.

“Tapi aku masih lapar,” ujar Dancer dengan tatapan memohon. Ibu membalas tatapannya dengan galak. Itu artinya tidak.

“Sst…Dancer, kau mau sereal-ku?” bisik Rudolph. Dancer menoleh lalu mengangguk.

Rudolph menggeser mangkuknya ke arah kakaknya. Sebentar saja sisa sereal dan susu di dalamnya habis. Dancer mengelus perutnya.

“Harusnya Ibu tahu kalau kita semua masih dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan banyak makan,” kata Dancer. Rudolph tidak berkata apa-apa. Ia meneguk susu dari dalam gelas kecilnya.

“Pantas kau tidak besar-besar, Rud. Lihat saja, gelasmu kecil sekali,” ejek Dancer. Dancer mengambil gelasnya yang lebih besar dan meneguk habis susu di dalamnya.

“Ibu tidak sayang padaku,” gumam Rudolph sedih.

“Sudahlah, Dancer! Kau suka sekali mengejek Rudolph. Jangan dengarkan dia, Rud. Ibu memberimu gelas lebih kecil karena kau memang masih kecil. Perutmu tidak akan bisa menampung susu lebih banyak dibanding kami,” ujar Prancer.

“Sok tahu kamu!” Dancer menjulurkan lidahnya.

Pagi itu keluarga Muffinhouse si hamster sedang sarapan bersama di ruang makan mereka yang mungil. Ruangan itu dijejali sembilan anak ditambah ayah dan ibu. Belum lagi anak-anak suka bertengkar pada saat makan. Dapatkah kalian bayangkan betapa sesak dan ramainya suasana di sana? Anak-anak duduk saling berhimpitan dan tak jarang mereka saling bersenggolan sehingga menumpahkan makanan ke atas meja makan dan lantai. Kalau sudah begitu ibu akan mengomel sambil membersihkan tumpahan susu atau remah-remah makanan yang tercecer.

“Dancer, Prancer, Dasher, Donner, Comet, Cupid, Blitzen, Vixen, Rudolph! Cepat habiskan sarapan kalian! Bis sekolah sebentar lagi datang menjemput kalian!” seru ayah ketika dilihatnya beberapa dari sembilan anak-anaknya masih belum menyelesaikan sarapan. Ia melipat koran dan melepaskan kacamata bacanya.

“Aku sudah selesai…” ujar Rudolph.

“Kau membagi sarapanmu dengan Dancer lagi?” tanya ibu.

“Mm…”

Rudolph selalu berusaha menyelesaikan sarapannya supaya dapat lebih dulu masuk ke dalam bis sekolah sebelum semua saudaranya. Ia tidak ingin berjejalan dengan mereka. Baginya saudara-saudaranya itu menyusahkan dan berisik. Ia membayangkan betapa nyamannya tinggal sendiri. Tanpa saudara. Bahkan tanpa ayah dan ibu.

***

“Dancer…”

“Prancer…”

“Dasher…”

“Donner…”

“Comet…”

“Cupid…”

“Blitzen…”

“Vixen…”

“Ayah…”

“Ibu…”

Sepi. Tidak ada yang menjawab. Rudolph mencari ke setiap ruangan yang ada di dalam rumah namun tidak mendapatkan siapapun di sana. Siapapun… Hanya ada dirinya. Ya…ia benar-benar sendiri.

“Hore!!! Akhirnya aku bisa tinggal sendiri di rumah! Tidak ada yang menggangguku, melarangku main video game, mengurangi jatah makanku dan aku tidak harus tidur berjejalan dengan saudara-saudaraku!” teriak Rudolph kegirangan. Sebagai anak bungsu, ia hampir tidak memiliki ruang yang cukup untuk tidur karena kakak-kakaknya dengan tubuh mereka yang lebih besar memenuhi kamar tidur mereka yang sempit, ia hanya memiliki waktu sedikit saja bermain video game dan tentu saja ia sering mendapatkan jatah makanan dengan jumlah lebih sedikit. Belum lagi ayah dan ibu yang sering melarang anak-anak bermain sampai malam. Tapi dengan tidak adanya mereka di rumah, Rudolph bisa melakukan apapun yang disukainya.

“Tapi…kemana ya mereka pergi,” pikir Rudolph.

“Ah…aku tidak peduli di mana mereka. Yang penting aku bebas!”  Rudolph bersorak. Kemudian ia berjalan menuju dapur dan membuka kulkas.

“Wow!” Rudolph belum pernah mendapati begitu banyak makanan yang dapat dinikmatinya sendiri. Botol-botol susu masih penuh.

Rudolph mengambil gelas besar milik ayahnya dan menuang susu ke dalamnya. Dalam hitungan detik ia meminumnya sampai habis. Kemudian ia mengambil persediaan kue kenari dan makanan lain yang ada di kulkas dan lemari penyimpanan. Belum merasa kenyang, ia memutuskan untuk memesan pizza. Ia berjalan menuju meja telepon, menekan nomor telepon Geronimo Pizza dan memesan seloyang besar salami pizza. Ya…benar-benar seloyang besar untuk dirinya sendiri.

Kira-kira tiga puluh menit kemudian bel rumah berbunyi. Rudolph buru-buru membuka pintu dan mendapati pengantar pizza berdiri di sana dengan membawa sebuah kotak besar di tangan. Mm…aroma pizza itu menyerbu hidung mungil Rudolph; membuat cacing-cacing di perutnya melonjak kegirangan.

“Kau sendiri?” tanya pengantar pizza sambil melongokkan kepalanya sedikit ke dalam rumah. Rudolph mengangguk.

“Di mana ayah, ibu dan kakak-kakakmu?” tanyanya lagi.

“Aku tidak tahu,” jawab Rudolph. Ia memberi sedikit tip, seperti yang biasa ibunya lakukan tiap kali memesan seloyang besar pizza untuk sebelas anggota keluarga, kepada si pengantar pizza.

“Terima kasih.”

Rudolph menutup pintu sebelum pengantar pizza itu sempat berkata,” Hati-hati di rumah sendiri. Sebentar lagi ada badai…”

Pizza itu masih hangat. Potongan salami di dalam pizza lumayan banyak dengan lelehan keju di atasnya. Rudolph mengambil satu potong. Habis dalam sekejap. Potongan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam…ketujuh…

Rudolph sudah tidak sanggup menghabiskan potongan terakhir. Ia menyerah karena merasa kekenyangan setelah makan begitu banyak. Tidak lama kemudian ia mulai mengantuk. Ia menguap lebar dan tak lama kemudian tertidur pulas.

Duaarrr!

Rudolph terbangun dari tidur. Udara terasa dingin. Ia melihat jam dinding. Pukul tujuh malam. Ia melihat sekeliling dan belum mendapati siapapun juga di rumah. Suara petir terdengar sambung-menyambung dengan disertai hujan lebat. Sangat lebat. Belum lagi angin bertiup kencang. Suara daun-daun di pohon yang bergesekan juga terdengar jelas.

Wuss…wuss…wuss…

Suara tiupan angin terdengar. Suasana malam itu terasa menakutkan. Rudolph duduk di pojok tempat tidur. Jantungnya berdebar kencang. Ia teringat cerita-cerita kakak-kakaknya tentang monster yang suka berkeliaran di saat hujan. Tubuhnya gemetar mengingatnya.

“Oh…ya ampun salah satu atap terbawa angin,” ujar Rudolph ketika dirasanya ada tetesan hujan di kepalanya. Ini menambah ketakutannya. Ia membayangkan monster itu mengintip dari lubang yang ada. Ia tidak dapat membayangkan apa jadinya kalau monster itu merayap turun? Hiii…

Hujan terus turun disertai angin kencang selama beberapa saat. Rudolph bertanya-tanya sendiri. Apakah semua atap rumah akan ikut terbawa jika angin terus bertiup kencang? Lalu bagaimana dengan dirinya? Akankah angin membawanya pergi juga? Apakah ia masih dapat bertemu dengan saudara-saudara, ayah dan ibu lagi?

“Kalian di mana? Aku merindukan kalian. Aku ingin kalian pulang…” ujar Rudolph di sela-sela tangisnya. Ia menutup wajahnya dengan bantal.

“Hei! Air matamu membasahi bantalku! Kau kenapa sih, Rudolph?” Vixen menyenggol tubuh adiknya. Ia menggeser tubuhnya menjauh dari Rudolph.

“Hei, anak kecil, bangun! Kau bermimpi dan menangis!” seru Comet.

Rudolph membuka matanya dan mendapati saudara-saudaranya ada di situ menatapnya heran. Mendadak ia merasa sangat menyayangi mereka. Ia memeluk semua saudaranya dengan pelukan hangat.

“Apa-apaan sih!” gerutu Blitzen.

“Aku menyayangi kalian semua!!!” teriak Rudolph gembira.

“Huh! Kau mengganggu tidurku!” dengus Dancer.

“RUDOLPH! TIDUR!” teriak ibu dari kamar sebelah.

“Baik, Bu!!!” jawab Rudolph.

“Sudah, sudah, ayo kembali tidur. Kau mengganggu tidur kami saja. Dasar anak kecil!” gerutu Cupid sambil menarik selimut.

“Ini selimutku.” Donner menarik selimut Cupid.

“Itu selimutmu,” kata Cupid sambil menarik selimutnya kembali dan menunjuk ke arah Prancer. Donner menarik selimut Prancer.

“Hei! Itu punyaku!” Prancer menarik kembali selimutnya.

Rudolph tersenyum geli melihat tingkah saudara-saudaranya. Mereka berisik seperti biasa. Namun kali ini ia tidak merasa terganggu. Ia justru merasa nyaman berada di tengah mereka dibandingkan hidup sendiri. Ia juga merasa aman karena yakin meskipun mereka suka bertengkar, berebut makanan dan selimut, sesungguhnya mereka saling menjaga.

Aku sayang kalian… Benar-benar menyayangi kalian…

Rudolph memeluk Dasher.

“Hei, hei! Kau memelukku!” Dasher melepaskan pelukan adiknya. Namun Rudolph memeluknya semakin kencang…

Cerita oleh   : Echa Tan

Gambar       : http://www.kissclipart.com

 

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started